AJAK FKP DAN FPDK KE INBIS PERMATA BUNDA, DISPORA HARAPKAN PEMUDA DIFABEL SEMANGAT BERWIRAUSAHA

BONTANG-Dengan dipimpin Kabid Pengembangan Pemuda, Hardiana Muriyani, rombongan Dinas Pemuda dan Olahraga Kalimantan Timur, Selasa (14/1) berkunjung ke Inkubator Bisnis (Inbis) "Permata Bunda" Kota Bontang guna mengetahui lebih mendalam serta mempelajari peran, manfaat inkubis terutama bagi pemuda disabilitas serta lingkungan.

Rombongan terdiri atas sejumlah pejabat dan  pagawai di Bidang Pengembangan Pemuda, Forum Kewirausahaan Pemuda (FKP) Kaltim serta Forum Pemuda Disabilitas Kreatif (FPDK) Kaltim berangkat dari Samarinda Selasa pagi dan langsung menuju Gedung Inkubator Bisnis Permata Bunda di Jalan Jend. Achmad Yani,  Gang Aren, City, Tanjung Laut, Bontang Selatan.

Dalam pertemuan tersebut, Hardiana mengiungkapkan keinginan Dispora Kaltim untuk memberdayakan Pemuda binaaanya termasuk FPK dan FPDK dalam upaya memberikan pengembangan diri melalui pemahaman dan motivasi mengelola bisnis secara mandiri.

"Pemuda Binaan Dispora Kaltim FPK yang menaungi wirausahawan muda dan FPDK yang menaungi Pemuda Disabilitas memiliki semangat yang sama untuk membangun kemandirian dan mendayagunakan pemuda melalui kreatifitas yang dimilikinya sehingga mampu berwirausaha secara mandiri dan terarah dan otomatis membuka lapangan kerja baru bagi pemuda lainnya,"ujar Hardiana.

Sehingga kedatangan ke Inbis Permata Bunda menjadi salah satu upaya memberikan pandangan baru bagi FPK dan FPDK dimana Inbis Permata Bunda memiliki tujuan untuk mendidik, merawat dan menggali bakat-bakat dari ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) untuk mampu berwirausaha.

Anggi Goenadi, Pendiri sekaligus Ketua Inbis Permata Bunda, mengungkapkan terimakasihnya atas kepercayaan Dispora Kaltim menjadikan Inbis sebagai  tempat untuk berbagi ilmu pengetahuan bagi Pemuda Binaanya. Dikatakannya Sustainable Entrepreneurship Program for Disability yang dijalankan melalui Inbis merupakan program khusus yang dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan untuk kaum disabilitas yang sebelumnya tidak mendapatkan kesempatan dalam mengembangkan diri dan menentukan masa depannya.

"Pada awalnya, Inbis memiliki 5 lini dengan mempekerjakan 12 karyawan difabel. Usaha tersebut di antaranya bisnis walpaper, cuci motor, kaos, hingga merchandise. Pemikiran Saya, kalau orang nganggap teman-teman disabilitas tidak matang, tidak siap untuk ada di masyarakat, kita akan mematangkan dia di inkubasi kewirausahaan," Ujar pria yang meninggalkan pekerjaan di sebuah perusahaan multinasional dengan gaji yang serba mencukupi demi memberdayakan anak berkebutuhan khusus atau difabel di Kota Bontang tersebut.

Dengan menjalankan usaha Inbis, Anggi memiliki mimpi untuk dapat mewujudkan kehidupan inklusif. Ia berharap masyarakat sekitar menganggap warga difabel sama seperti masyarakat pada umumnya dan dihargai hak-haknya untuk mendapat pekerjaan dan pengakuan masyarakat.

“Saya yakin masalah-masalah di setiap difabel itu hampir sama semua, pertama rasa  pesimis yang tumbuh, kemudian yang kedua beberapa diantaranya suka berjualan cerita kesedihan, keibaan. Hal ini yang harus kita hilangkan, sudah menjadi kewajiban kita mengajak mereka untuk bangkit dari permasalahan dan keterbnatasan yang dimilikinya dengan menghasilkan karya melalui kreatifitas yang dimilikinya," kata pria penerima penghargaan Indonesia SDG’s Awards tahun 2017 lalu dari Kementerian PPN.

Satu hal yang selaras dengan dibentuknya FPDK Kaltim di awal tahun 2018 lalu yakni menindaklanjuti misi Gubernur Kaltim Isran Noor yang pertama yaitu Berdaulat Dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia yang Berakhlak Mulia dan Berdaya Saing, terutama Perempuan, Pemuda dan Penyandang Disabilitas.

"Forum Pemuda Disabilitas Kreatif (FPDK) Kaltim, memfasilitasi para pemuda disabilitas dengan semua latarbelakangnya dan dengan prinsip bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk mereka berkarya dan mandiri. Kita berharap paparan dari Mas Anggi dapat membuka pemikiran untuk mengembangkan FPDK lebih berkembang lagi,"tutp Hardina Muriyani. (rdi)